Penjelasan Zakat Penghasilan yang Mesti Kita Tahu sebagai Pekerja Muslim

Penjelasan Zakat Penghasilan yang Mesti Kita Tahu sebagai Pekerja Muslim
Penjelasan Zakat Penghasilan yang Mesti Kita Tahu sebagai Pekerja Muslim
Bagikan tulisan ini via:

DDBANTEN.ORG — Zakat penghasilan adalah zakat yang dikeluarkan dari penghasilan profesi (hasil profesi) bila telah mencapai nisab. Profesi tersebut misalnya pegawai negeri atau swasta, konsultan, dokter, notaris, akuntan, wiraswasta, dsb. [irp posts=”994″ name=”Siapa Sajakah yang Berhak Menerima Zakat? Ini Penjelasannya”]

Berbeda dengan sumber pendapatan dari pertanian, peternakan, dan perdagangan, sumber pendapatan dari profesi tidak banyak dikenal di masa generasi terdahulu. Oleh karena itu, pembahasan mengenai tipe zakat penghasilan tidak dapat dijumpai dengan tingkat kedetailan yang setara dengan tipe zakat yang lain. Namun bukan berarti pendapatan dari hasil profesi terbebas dari zakat, karena zakat secara hakikatnya adalah pungutan terhadap kekayaan golongan yang memiliki kelebihan harta untuk diberikan kepada golongan yang membutuhkan.

Dasar Hukum

Munculnya argumentasi tentang zakat profesi atau penghasilan oleh para ulama kontemporer pada dasarnya merujuk kepada dalil-dalil umum yang terdapat dalam Alquran dan hadis. Lalu ditambah lagi dengan beberapa riwayat para sahabat Rasulullah SAW yang diikuti oleh praktik para pemimpin Islam pascakepemimpinan Rasulullah SAW (M Taufik Ridlo, 2007).

Untuk itu, ijtihad terkait hal ini tidak dilakukan secara sembarangan apalagi dengan niat untuk membuat-buat sesuatu yang baru. Perlu disadari zakat profesi ini adalah bagian dari zakat maal dan bukan sesuatu yang terpisah dari kelompok zakat maal. Hanya sumbernya saja yang berasal dari profesi seseorang.

Yusuf al-Qaradhawi menyebut harta yang diperoleh karena profesi ini dengan istilah al-maal al-mustafad. Istilah ini mampu mengakomodasi dinamika perkembangan kegiatan ekonomi manusia yang sangat cepat. Alhasil, membuatnya banyak ditemukan berbagai jenis usaha dan pekerjaan yang tidak ditemukan pada zaman-zaman sebelumnya, termasuk pada zaman Nabi SAW.

Di antara dalil-dalil yang bersifat umum dan menjadi referensi adalah QS al-Baqarah: 267; QS adz-Dzariyat: 19; QS At Taubah : 103; dan QS Al Hadid: 7. Ayat-ayat ini menjadi landasan pengenaan zakat atas segala jenis harta yang diperoleh manusia. Tentunya, selama cara memperoleh harta tersebut tidak bertentangan dengan ketentuan syariah. Demikian pula dengan sejumlah hadis Rasulullah SAW yang bersifat umum. Antara lain sabda Nabi: “Bila suatu kaum enggan mengeluarkan zakat maka Allah akan menguji mereka dengan kekeringan dan kelaparan.” (HR Imam Thabrani).

Kemudian lagi ditambah pendapat dan praktik sejumlah sahabat Rasul yang memperkuat adanya kewajiban zakat atas al-maal al-mustafad ini. Dalam kitab yang sangat terkenal, Al-Amwal, Abu Ubaid menyebutkan sejumlah riwayat sahih dari para sahabat terkait masalah zakat ini.

Antara lain adalah pendapat Ibnu Abbas ra, yang dikenal sebagai sahabat Rasul yang dianggap paling ahli tafsir. Abu Ubaid menyatakan, Ibnu Abbas ra ketika menanggapi seseorang yang mendapatkan manfaat harta dari pekerjaannya maka ia mengatakan bahwa “hendaknya orang tersebut mengeluarkan zakatnya pada hari ia mendapatkannya”.

Masih dalam kitab yang sama, Abu Ubaid meriwayatkan dari Hubairah bin Barim, di mana ia berkata, “Ibnu Mas’ud ra memberikan kami upah dalam kantong-kantong kecil berisi uang, kemudian mengambil zakat darinya”. Ia pun berkata, Ibnu Mas’ud mengeluarkan zakat dari pendapatan mereka dari setiap 1.000 sebesar 25. Artinya, Ibnu Mas’ud ra mengenakan zakat atas penghasilan sebesar 2,5 persen di saat seseorang menerima penghasilannya.

Imam Malik dalam kitabnya yang sangat masyhur, Al-Muwatha, meriwayatkan dari Ibnu Syihab Az Zuhri, di mana ia berkata, “Orang pertama yang mengambil zakat dari pendapatan (yang diberikan dari Baytul Maal) adalah Mu’awiyah bin Abi Sufyan ra.”

Pada saat itu, keputusan Muawiyah adalah dalam kapasitasnya sebagai khalifah, pemimpin kaum muslimin, yang mana pada masa beliau berkuasa masih banyak sahabat-sahabat Radiyallaahu ‘anhum yang masih hidup. Kalau keputusan Muawiyah ini dianggap sebagai bid’ah yang menyesatkan, tentunya para sahabat akan menentangnya.

Menurut Yusuf al-Qardhawi, bukti para sahabat yang masih hidup akan menentang Muawiyah kalau ia menyalahi sunnah adalah ketika Muawiyah mengambil zakat fitrah setengah sha’ biji gandum yang menggantikan satu sha’ dari yang lainnya. Para sahabat pun mengingkari hal tersebut. Akan tetapi, terkait zakat penghasilan ini, tidak ada sahabat yang mengingkari keputusan Muawiyah. Muawiyah pun, sebagaimana diketahui, termasuk sahabat Rasul yang sangat paham akan sunnah Nabi.

Demikian pula dengan khalifah yang sangat legendaris, yaitu Umar bin Abdul Aziz, yang sering disebut Khalifah Rosyidah kelima. Beliau juga memungut zakat atas gaji dan hadiah, termasuk harta-harta yang pernah disita pemerintah yang dikembalikan pada pemiliknya. Tentu tidak mungkin apa yang dilakukan oleh Umar bin Abdul Aziz tersebut dianggap sebagai tindakan melanggar ajaran agama sementara beliau termasuk hamba Allah yang saleh dan pemimpin yang adil.

Melihat argumentasi di atas maka kewajiban zakat profesi atau zakat penghasilan memiliki landasan hukum yang dapat dipertanggungjawabkan. Ada ruang dalam ibadah zakat yang memungkinkan konsep zakat dapat dikembangkan, yaitu pada sisi al-amwal az-zakawiyyah (harta-harta yang termasuk objek zakat), termasuk harta hasil aktivitas keprofesian seseorang. Yang berbeda adalah tata cara perhitungan zakatnya, tergantung metode qiyas-nya. 

Waktu Pengeluaran

Ulama modern seperti Yusuf al-Qardhawi tidak mensyaratkan haul, tetapi zakat dikeluarkan langsung ketika mendapatkan harta tersebut. Mereka meng-qiyas-kan dengan Zakat Pertanian yang dibayar pada setiap waktu panen. Artinya, Zakat Penghasilan (Zakat Preofesi) ditunaikan setiap bulan setelah menerima gaji.

Nisab dan Kadar Zakat

Hasil profesi dikategorikan sebagai jenis harta wajib zakat berdasarkan qiyas (analogi) atas kemiripan (syabbah) terhadap karakteristik harta zakat yang telah ada, yakni:

1. Model memperoleh harta penghasilan (profesi) mirip dengan panen (hasil pertanian), sehingga harta ini dapat di-qiyas-kan pada zakat pertanian berdasarkan nisab (653 kg gabah kering giling) dan waktu pengeluaran zakatnya (setiap kali panen).

2. Model harta yang diterima sebagai penghasilan berupa uang, sehingga jenis harta ini dapat di-qiyas-kan pada zakat harta (simpanan atau kekayaan) berdasarkan kadar zakat yang harus dibayarkan 2,5%. Dengan demikian, apabila hasil profesi seseorang telah memenuhi ketentuan wajib zakat, ia berkewajiban menunaikan zakatnya.

Penghitungan Zakat

Menurut Yusuf Qardhawi penghitungan zakat penghasilan dibedakan menurut dua cara:

1. Secara langsung, zakat dihitung dari 2,5% dari penghasilan kotor secara langsung, baik dibayarkan bulanan atau tahunan. Metode ini lebih tepat dan adil bagi mereka yang diluaskan rezekinya oleh Allah. Contoh: Seseorang dengan penghasilan Rp3.000.000 tiap bulannya, maka wajib membayar zakat sebesar: 2,5% x 3.000.000 = Rp75.000 per bulan atau Rp 900.000 per tahun.

2. Setelah dipotong dengan kebutuhan pokok, zakat dihitung 2,5% dari gaji setelah dipotong dengan kebutuhan pokok. Metode ini lebih adil diterapkan oleh mereka yang penghasilannya pas-pasan. Contoh: Seseorang dengan penghasilan Rp1.500.000,- dengan pengeluaran untuk kebutuhan pokok Rp1.000.000 tiap bulannya, maka wajib membayar zakat sebesar : 2,5% x (1.500.000-1.000.000) = Rp12.500 per bulan atau Rp150.000,- per tahun.

Cara apa pun yang digunakan, kita tidak boleh ragu dengan adanya kewajiban zakat atas penghasilan kita selama harta yang kita peroleh dari profesi kita ini telah memenuhi persyaratan. Apa yang sudah dipraktikkan di berbagai lembaga, seperti bank syariah dan perusahaan lainnya, dalam memotong gaji karyawannya secara langsung, insya Allah memiliki argumentasi dan dalil yang kuat.

Dengan adanya UU No 23/2011 tentang Pengelolaan Zakat, di mana penghasilan termasuk harta objek zakat, maka mudah-mudahan ketentuan ini dapat menjadi solusi atas perbedaan pendapat yang ada. Wallaahu a’lam.

Zakat melalui Lembaga

Banyak orang memilih untuk menyalurkan zakatnya sendiri dibandingkan melalui lembaga amil. Hal ini dapat dilatarbelakangi berbagai alasan, seperti kedekatan emosional ketika menyalurkan langsung ke kerabat atau teman dekat, atau perasaan bahagia ketika menyalurkan zakat ke pihak yang membutuhkan.

Namun tahukah Anda, Rasulullah SAW dalam menyalurkan zakat lebih memilih melalui amil?

Di masa Rasulullah SAW, yang diangkat dan ditugaskan sebagai amil zakat bukanlah sembarang orang. Amil dipilih dari orang-orang terbaik dan terpercaya seperti Muadz bin Jabal dan Anas bin Malik ra sebagai amil di Bahrain oleh Khalifah Abu Bakar Al-Shiddiq ra.

Teladan yang diberikan Rasulullah SAW bukan tanpa alasan karena terdapat beberapa keutamaan membayar zakat melalui amil, di antaranya:

1. Zakat yang ditunaikan berpotensi menjadi zakat produktif, artinya mampu meningkatkan kemandirian ekonomi kalangan fakir-miskin dan golongan lain yang membutuhkan. Bentuknya dapat berupa memberikan modal kerja bagi mustahik yang memiliki usaha, membangun pesantren, rumah sakit atau fasilitas umum lainnya

2. Menjamin kepastian dan kedisiplinan membayar zakat

3. Menjaga perasaan rendah diri para mustahik apabila berhadapan langsung untuk menerima zakat dari para muzaki

4. Mencegah tumbuhnya sifat riya (pamer) seorang muzaki

5. Zakat tersalurkan sesuai dengan syariat delapan golongan yang berhak menerima zakat (asnaf). Pada umumnya seorang muzaki tidak mempunyai informasi yang cukup mengenai calon mustahik, sehingga sangat mungkin terjadi orang yang akhirnya menerima zakat tersebut ternyata tidak termasuk dalam ashnaf

Tunaikan Zakat Penghasilan Anda melalui Dompet Dhuafa:

BCA 245.4000.331 | BNI Syariah 9999.2525.8 | Mandiri 155.000.2200.221

Konsultasi dan Konfirmasi Zakat: WhatsApp Center Layanan Donatur Dompet Dhuafa 0859-6655-3585


TUNAIKAN ZAKAT, KLIK DI SINI


 

TINGGALKAN KOMENTAR
Bagikan tulisan ini via:

Dompet Dhuafa tidak menerima segala bentuk dana yang bersumber dari tindak kejahatan.

Be Informed

berlangganan info DD

Assalamualaikum...

Ada yang bisa kami bantu? Jangan sungkan hubungi kami langsung dari WhatsApp Anda. Klik di sini untuk memulai chatting :)
Powered by