Penanganan Bencana Mencakup Dimensi Pembangunan yang Luas

Penanganan Bencana Mencakup Dimensi Pembangunan yang Luas
Penanganan Bencana Mencakup Dimensi Pembangunan yang Luas
Bagikan tulisan ini via:

Oleh: Syamsul Ardiansyah

Sebagai negeri yang berada di atas Cincin Api Pasifik, kejadian-kejadian alam seperti gempa bumi, letusan gunung api, tsunami, dan longsor, sudah pasti akan terjadi. Ada sekitar 400 gunung api, 127 di antaranya gunung api aktif yang ada di Indonesia.

Setiap hari, kita mengalami gempa dan beberapa di antaranya bisa dirasakan dan merusak. Sementara sebagian besar lainnya berada pada kekuatan yang “tidak bisa dirasakan” manusia. Semua itu adalah kejadian alam yang belum tentu bisa dikatakan sebagai “bencana”. Mengapa?

Terminologi PBB

Bencana dalam terminologi Perhimpunan Bangsa-Bangsa (PBB), bencana adalah suatu gangguan serius terhadap fungsi-fungsi dasar masyarakat yang menyebabkan kerugian yang meluas dalam hal materi, ekonomi, dan lingkungan yang melampaui kemampuan masyarakat tersebut untuk mengatasi dengan kekuatannya sendiri.

Ada tiga variabel yang saling terkait dalam memahami bencana, yakni “gangguan serius”, “kerugian yang meluas”, dan “melampaui kapasitas masyarakat untuk mengatasinya”. Artinya, kejadian-kejadian alam seperti gempa, erupsi gunung api, longsor, tsunami dan lain-lain akan dikatakan sebagai bencana jika risiko yang diakibatkannya menyebabkan gangguan serius, kerugian yang meluas, dan dampaknya tidak mampu diatasi oleh masyarakat yang terpapar oleh kejadian tersebut.

Risiko adalah kemungkinan dampak yang timbul karena adanya ancaman dan kerentanan. Risiko akan berbanding lurus dengan kerentanan serta ancaman dan berbanding terbalik dengan kapasitas. Semakin tinggi kerentanan dan ancaman maka risiko juga semakin tinggi dan sebaliknya, semakin tinggi kapasitas maka risiko akan semakin rendah.

Kapasitas adalah kondisi yang menunjukkan kemampuan komunitas untuk mengurangi risiko atau dampak bencana. Kerentanan adalah kondisi atau keadaan yang mengurangi kemampuan komunitas dalam menghadapi ancaman dari luar. Kerentanan dan kapasitas adalah dua sisi mata uang.

Karena risiko akibat kejadian-kejadian alam itu bervariasi maka pengelolaan risikonya pun berbeda-beda. Dalam khasanah manajemen risiko dikenal empat variabel, yakni risk acceptancerisk reductionrisk-sharing, dan risk-avoidance.

Risk Acceptance adalah perlakuan terhadap risiko yang dampaknya masih bisa diatasi dengan kapasitas yang ada. Risk Reduction adalah perlakuan terhadap risiko yang dampaknya perlu dikurangi agar tidak menyebabkan kerugian.

Risk Sharing adalah perlakuan terhadap risiko yang dampaknya perlu dibagi dengan pihak ketiga, misalnya pihak asuransi. Sedangkan Risk Avoidance adalah perlakuan terhadap risiko-risiko yang dampaknya jauh di atas kemampuan masyarakat terdampak untuk mengatasinya.

Mengukur risiko

Kalau dilihat lebih seksama, ke empat kategori pengelolaan risiko itu menggunakan kapasitas dan juga kerentanan masyarakat terdampak sebagai instrumen untuk mengukur risiko. Sekarang, bagaimana caranya mengukur kapasitas sekaligus kerentanan masyarakat agar kita punya skenario penanganan risiko yang lebih tepat?

Dalam memahami kapasitas dan kerentanan, saya menggunakan pendekatan Pressure and Release (PAR) Model. Berdasarkan PAR, ada tiga variabel yang bisa digunakan untuk mengukur kerentanan sekaligus kapasitas masyarakat, yakni (1) unsafe condition; (2) dynamic pressure; (3) root causes.

Kejadian-kejadian alam seperti gempa, erupsi, tsunami dan lain sebagainya akan menjadi ancaman alam jika menimpa masyarakat yang berada dalam kondisi yang tidak aman (unsafe condition). Tingkat risiko yang akan dihadapi oleh masyarakat yang berada dalam kondisi yang tidak aman akan ditentukan oleh dua variabel lainnya, yakni dynamic pressure dan root causes.

Pada variabel dynamic pressure, yang akan dikaji adalah seberapa banyak populasi masyarakat yang berada pada kondisi tidak aman dan seberapa dalam pemahaman masyarakat terhadap potensi ancaman yang akan dihadapi berikut dengan cara-cara menghadapinya?

Variabel lain yang juga menentukan tingkat kerentanan adalah “root causes”. Dalam hal ini, yang dilihat adalah apakah masyarakat memiliki akses terhadap kebijakan, sumberdaya ekonomi, struktur sosial, dan lain sebagainya. Keberadaan variabel dynamic pressure dan root causes untuk mengatakan bahwa tidak semua masyarakat yang berada di kawasan yang rawan memiliki kerentanan yang sama.

Dengan memahami pengertian bencana serta bagaimana bencana berdinamika dalam kehidupan sosial masyarakat, kita dapat merumuskan strategi yang tepat untuk mengelola dampaknya dan meminimalisasi risikonya.

Penanggulangan bencana, secara konseptual, pada akhirnya tidak hanya sebatas penanganan kedaruratan melainkan mencakup dimensi-dimensi pembangunan yang luas. Oleh karenanya, manajemen risiko bencana yang komprehensif sudah seharusnya masuk ke dalam agenda pembangunan, baik di tingkat nasional maupun lokal.

Pembangunan tanpa mengikutsertakan pengarusutamaan pengurangan risiko bencana sama saja dengan merencanakan terjadinya bencana di masa yang akan datang. (Penulis adalah Manajer Pemulihan dan Lingkungan Dompet Dhuafa)***

Artikel ini dimuat di kabar-banten.com, 7 Januari 2019

TINGGALKAN KOMENTAR

BACA JUGA:

Bagikan tulisan ini via:

Dompet Dhuafa tidak menerima segala bentuk dana yang bersumber dari tindak kejahatan.

Be Informed

berlangganan info DD

Assalamualaikum...

Ada yang bisa kami bantu? Jangan sungkan hubungi kami langsung dari WhatsApp Anda. Klik di sini untuk memulai chatting :)
Powered by