Punya Usaha? Begini Cara Menghitung Zakatnya

Punya Usaha? Begini Cara Menghitung Zakatnya
Punya Usaha? Begini Cara Menghitung Zakatnya
Bagikan tulisan ini via:

Ulama-ulama fikih menamakan zakat perniagaan (barang dagangan/ usaha) dengan istilah “Harta Benda Perdagangan” (arudz al tijaroh), yakni: semua yang diperuntukkan untuk dijual selain uang kontan dalam berbagai jenisnya, meliputi alat-alat, barang-barang, pakaian, makanan, perhiasan, binatang, tumbuhan, tanah, rumah, dan barang-barang tidak bergerak maupun bergerak lainnya.

Landasan Hukum

Menurut Ibnu Arabi dalam Syarh at-Turmizi Jilid 2 hal 104 bahwa ayat “Pungutlah zakat dari kekayaan mereka” dalam QS: 103 itu berlaku menyeluruh atas semua kekayaan, bagaimana pun jenis, nama, dan tujuannya. Orang yang ingin mengecualikan salah satu jenis haruslah mampu mengemukakan satu landasan. (Hukum Zakat hal. 301)

Abu Dzar berkata, “Saya mendengar Rasulullah SAW bersabda, unta ada sedekahnya, kambing ada sedekahnya, dan pakaian juga ada sedekahnya.” (Ibnu Hazm, Al-Muhalla, jilid 5: 234-235).

Pakaian (al-Baz) menurut al-Qomus berarti baju, peralatan rumah tangga, dan sebagainya, yang meliputi kemeja, perabot, peralatan dapur. Dan wajib zakat atas nilai harganya apabila diinvestasikan dan diperjualbelikan (Hukum Zakat hal. 303)

Ibnu Mundzir pun berkata, “Para ulama fikih sudah sampai pada suatu kesimpulan bahwa harta benda yang dimaksudkan untuk diperdagangkan wajib zakat apabila masanya sudah sampai setahun.” Hal ini diriwayatkan dari Umar, anaknya, dan Ibnu Abbas. Hasan, Jabir bin Zaid, Maimun bin Mahran, Thawus, Nakha’I, Tsauri, AuzaI, Syafi’I, Abu Ubaid, Ishaq, dan Abu Hanifah dan kawan-kawannya. (Al-Mughni, jilid 3: 30).

Dalam fikih Islam, perusahaan dikenal dengan syirkah. Pada era modern ini, perusahaan adalah merupakan lambang kekuatan perekonomian. Oleh sebab itu, tidak pantas membiarkan perusahaan terlepas dari kewajiban zakat.

Ketentuan

  • Berlalu masanya setahun
  • Mencapai nisab 85 gram emas
  • Bebas dari utang
  • Kadar zakat yang dikeluarkan adalah 2,5%
  • Dapat dibayarkan dengan uang atau barang

Cara Penghitungan

Besar Zakat = (Modal + Keuntungan + Piutang) – (Utang + Kerugian) x 2,5%

Contoh:

Bapak Usman seorang pedagang warung kelontong, ia memiliki aset (modal) sebanyak Rp 10.000.000. Setiap bulannya ia mendapatkan keuntungan bersih sebesar Rp 3.000.000. Usaha itu ia mulai pada bulan Januari 2010, setelah berjalan 1 tahun pada bulan tersebut ia mempunyai piutang yang dapat dicairkan sebesar Rp 5.000.000 dan utang yang harus ia bayar pada bulan tersebut sebesar Rp 3.00.000.

Jawaban:

  • Zakat dagang dianalogikan kepada zakat emas, nisabnya adalah 85 gram emas, mencapai haul, dan dengan tarif 2,5%
  • Aset atau modal yang dimiliki Rp 10.000.000
  • Keuntungan setiap bulan Rp 5.000.000 x 12 = Rp 60.000.000
  • Piutang sejumlah Rp 5.000.000
  • Utang sejumlah Rp 3.000.000
  • Penghitungan zakatnya adalah: (Modal + untung + piutang )- (utang ) x 2,5% = zakat
  • (10.000.000 + 60.000.000 + 3.000.000) – (3.000.000) x 2,5% = Rp 1.750.000 
  • Jadi zakatnya adalah Rp 1.750.000

    KALKULATOR ZAKAT

    TUNAIKAN ZAKAT

    TUNAIKAN SEDEKAH

    TUNAIKAN WAKAF

TINGGALKAN KOMENTAR

BACA JUGA:

Bagikan tulisan ini via:

Be Informed

belangganan info DD