‘Nggak Apa-apa Pakai Bola Mata Palsu, Pak, yang Penting Syabila Nggak Sedih Lagi’

‘Nggak Apa-apa Pakai Bola Mata Palsu, Pak, yang Penting Syabila Nggak Sedih Lagi’
‘Nggak Apa-apa Pakai Bola Mata Palsu, Pak, yang Penting Syabila Nggak Sedih Lagi’
Bagikan tulisan ini via:

Syabila namanya. Malang betul, sejak usia 1 tahun, bocah itu menderita tumor pada bola matanya. Sudah hampir empat tahun Syabila menanggung lara. Bagaimana tidak, menjelang usianya yang kelima tahun,  hanya melihat dengan mata kirinya dan tumor yang kian hari kian mengganas menggerogoti mata kanannya. Syabila menjadi berbeda dengan teman-teman seusianya.

Kondisi keluarga yang berkekurangan, membuat Syabila harus pasrah akan lambatnya penanganan medis yang ia dapatkan. Keluarga tak punya cukup uang dan juga pengetahuan untuk membawa Syabila ke dokter. Bertahun-tahun, Syabila harus bersabar menahan rasa sakit pada bagian matanya dan tak jarang ejekan dari teman sebayanya.

“Dia sampai gak berani keluar rumah karena diejek terus,” ujar Nek Inah, sang nenek saat singgah ke kantor Dompet Dhuafa Banten bersama Syabila, Senin (65/6/2017). 

Sedih Syabila tak usai sampai di situ. Di usianya yang sebentar lagi akan masuk sekolah, Syabila masih merenda angan yang tiada pasti lantaran keadaan ekonomi orangtuanya yang tidak menentu.

“Bapaknya kadang kerja kadang nganggur. Cuma bisa nyerir. Ada uang kalau ada yang nyewa buat narik pasir, semen, dan bata. Itu juga jarang-jarang, hanya dua kali sebulan. Sekarang dia juga sering sakit-sakitan. Baru bulan kemarin dioperasi karena sering bisulan di badannya,” tutur Nek Inah dengan wajah mendung.

Kecintaanya pada sang cuculah yang membuat ia menjadi begitu tabah dan tangguh. Nek Inah sudah janda dari beberapa tahun lalu. Keinginan kuatnya untuk mengantar Syabila pada kesembuhan, Nek Inah mencari nafkah sendiri dengan cara berjualan gorengan.

“Alhamdulillah sehari-hari ada dapat 50 ribu, bersihnya 20 ribu sampai 30 ribu kalau dikeluarin modal. Harus dicukup-cukupin untuk keperluan dagang besoknya,” cerita Nek Inah.

Meski hasil berjualan gorengan sangat jauh dari harapan cukup untuk biaya berobat sang Cucu, Nek Inah tak pernah lelah melantun doa pada Sang Mahakaya untuk kesembuhan Syabila.

Beruntung, sekali waktu Syabila ditemukan oleh tim program respons sosial Dompet Dhuafa. Usai melakukan survey ke tempat tinggal Syabila di Mandalawangi, Kabupaten Pandeglang, Banten, Dompet Dhuafa akhirnya mendampingi dan membantu proses pengobatan Syabila ke rumah sakit di Jakarta.

“Semenjak dibantu Dompet Dhuafa itu keadaan Syabila mulai membaik. Tadinya matanya bengkak akibat tumor, badannya juga kurus karena nggak bisa makan. Kini alhamdulillah mulai gemuk lagi. Kata dokter kemarin itu, tinggal menunggu keputusan untuk operasi lagi,” lanjut Nek Inah, “saya harap operasinya lancar, Syabila bisa memakai bola mata palsu. Biar nggak terlalu sedih, Pak, kasian anaknya diejek terus sama teman-temannya,” isak Nek Inah akhirnya benar-benar pecah.

Kini, Nek Inah hanya berpasrah diri. Ia sudah beriktiar yang terbaik untuk sang cucu. Meski kelak keputusannya Syabila tidak bisa melihat dengan mata kanannya, dia bersyukur telah mencoba melakukan yang terbaik itu cucu tersayangnya itu.

“Walau nanti Syabila harus pakai bola mata palsu, nggak apa-apa, Pak. Yang penting dia nggak sakit lagi. Nggak sedih lagi,” pungkasnya. (ibin)

 

KALKULATOR ZAKAT

TUNAIKAN ZAKAT

TUNAIKAN SEDEKAH

TUNAIKAN WAKAF

 

TINGGALKAN KOMENTAR

BACA JUGA:

Bagikan tulisan ini via:

Be Informed

belangganan info DD