Memberi Teman, Sudah Termasuk Zakat?

Memberi Teman, Sudah Termasuk Zakat?
Memberi Teman, Sudah Termasuk Zakat?
Bagikan tulisan ini via:

Tanya:

Assalamualakum, Ustaz. Saya mau bertanya, yang dinamakan zakat kan mengeluarkan sebagian harta setelah cukup nisob dan sudah 1 tahun. Jumlah yang dikeluarkan juga 2,5 persen. Apakah kalau saya mengeluarkan harta sebanyak 10 persen dari penghasilan tiap bulan itu bisa dianggap zakat? Saya juga memberikan harta itu kepada teman yang kekurangan biaya kuliah? Apakah itu bisa dianggap zakat? Saya berpikiran, dari pada kita memberikan kepada lembaga, lebih baik kita  memberikan kepada orang yang memerlukan di dekat kita. Terima kasih. Wassalamualaikum. (Albus)

Jawab:

Waalaikumsalam, Saudara Albus yang dirahmati Allah.

Mengeluarkan zakat harta memang harus memenuhi syarat dan ketentuan harta tersebut wajib dikeluarkan zakatnya yaitu: 1) Milik penuh 2) Cukup nisab 3) Sudah setahun (haul) 4) Bebas dari utang 5) harta tesebut an-numu artinya dapat bertambah bila dijadikan modal usaha.

Nah, bila dari penghasilan tersebut terdapat pungutan sebesar 10 persen apakah dengan membayarnya bisa dianggap kita telah berzakat? Tentunya tidak, sebagaimana dalih orang yang mengelak membayar zakat karena telah membayar pajak. Antara masing-masing keduanya memiliki kekhasan yang tidak mungkin disatukan. Zakat adalah sebagai bukti kepatuhan beribadah kepada Allah untuk membersihkan harta kita, dan para penerima zakat adalah orang-orang yang sudah Allah tentukan golongan mereka dalam Firman-Nya (at-Taubah:60).

Ditinjau dari peribadatan sendiri merujuk pada kaedah para ulama tentang syarat sah diterimanya amal dan ibadah adalah dengan memenuhi dua syarat yakni ikhlas karena Allah taala dan ibadah tersebut dilandasi sunnah yang diamalkan Rasul. Artinya, berzakat itu ikhlas niatannya karena Allah bukan karena terpaksa dan zakat tersebut bilamana dikeluarkan harus sesuai takaran yang disunnahkan Rasul 2,5 persen tidak kurang atau pun lebih.

Ketika kita mengulurkan bantuan sosial sejatinya kembali pada niatan hati kita apakah bantuan tadi infak, sedekah, hibah, atau hadiah. Dalam kaedah fikih di sebutkan “al-umuuru bi maqosidiha” perbuatan itu dinilai (pahalanya) tergantung niat dan maksud kita. Kalau maksud kita hendak berzakat maka kita harus tunduk pada syarat dan ketentuan mengeluarkan zakat.

Ditinjau dari sahnya amalan zakat maka memberikan langsung kepada lembaga amil atau langsung kepada mustahik, keduanya sah menurut para fuqoha. Tapi memberi kepada lembaga zakat tentunya ada manfaat lebih. Bukankah Rasulullah dan para sahabat menyerahkan masalah zakat kepada para amilnya? Wallahu ta’ala a’lamu. (Tim Dompet Dhuafa)

KALKULATOR ZAKAT

TUNAIKAN ZAKAT

TUNAIKAN SEDEKAH

TUNAIKAN WAKAF

TINGGALKAN KOMENTAR

BACA JUGA:

Bagikan tulisan ini via:

Be Informed

belangganan info DD