Hari Terakhir di Cox’s Bazar, Bangladesh (Catatan Tim Kemanusiaan #SaveRohingya)

Hari Terakhir di Cox’s Bazar, Bangladesh (Catatan Tim Kemanusiaan #SaveRohingya)
Bagikan tulisan ini via:

Salah satu bagian yang paling menyedihkan dari sebuah perang adalah anak-anaknya. Serupa kertas, mereka putih dan rapuh. Noda itu datang dan corat-coret bertabur di putihnya kertas, beberapa diantaranya hadir meninggalkan sisi sobekan. Tak Terlupa. [irp posts=”4553″ name=”Hunida, Tegarlah Seperti Bayimu (Catatan Tim Kemanusiaan #SaveRohingya)”]

Teringat akan sebuah memoar Anne Frank, anak kecil yang merekam kengerian perang dunia kedua dan kamp konsentrasi. Seandainya pun dia berhasil tumbuh dewasa, saya yakin ingatan-ingatan itu akan menjejak di dalam ingatan hingga sewaktu-waktu itu dapat mencengkeram ingatan bahagia. Trauma dan skizofrenia bisa saja terjadi. Pengalaman saya di beberapa daerah bencana, anak-anak lah yang sebenarnya paling menderita.

Sekiranya itu juga mungkin yang terjadi di Cox’s Bazar ini. Dompet Dhuafa yang tergabung dalam Indonesian Humanitarian Alliance kemudian melihat masalah itu. Salah satu rekan saya, Eka Suwandi dari Disaster Management Center (DMC) Dompet Dhuafa, mengajak anak-anak bermain dan menghibur mereka, Selasa kemarin (3/10).

Berlatar padi yang melambai-lambai oleh angin dan cerah langit biru. Di depan posko kesehatan, dia menunjukkan anak-anak permainan sulap, seutas benang dia ikatkan di pergelangan tangan seorang anak pengungsi. 

Dalam sekejap mata. Hap! Benang itu menghilang dari pandangan. Anak-anak itu keheranan, Eka hanya tertawa. Pun saya kelimpungan penasaran.

Di telinganya, dia kemudian mengeluarkan benang itu. Anak-anak berdecak kagum, beberapa diantaranya tertawa. Dalam hati saya senang, melihat bocah-bocah itu tertawa. Ada harapan di setiap senyum itu, sekalipun keterbatasan menghantam mereka. Saya jadi termotivasi juga. Teringat beberapa materi trauma healing.

Saya mengambil beberapa snack dan mengajak mereka ‘Simon Berkata’. Perainan ice breaking ini memperagakan berbagai posisi tangan. Dan saya mengarahkan anak-anak mengikuti aba-aba saya. Dibantu seorang translator, saya mengajak mereka bermain. Tawa mereka lepas, sekalipun saya tahu beberapa diantaranya masih terasa asing dengan saya.

Akhirnya snack makan siang saya, habis di tangan anak-anak ini. Ya, saya rela tidak makan siang hari itu. Apalah arti perut lapar ini dibandingkan segurat harapan dari senyum mereka.

Di situ kami sadar, kami bukan dewa atau malaikat pembawa mukjizat, yang mampu melenyapkan kegetiran yang mereka alami. Kami hanya melakukan perihal sederhana dan berharap mereka dapat sejenak bahagia.

Kami juga sadar, bukanlah kami juga yang membantu mereka. Bantuan itu sebenarnya adalah Anda, empati Anda, bahkan uluran tangan Anda ke kami.

Besar harapan Kami, Anda sekalian jangan putus memberi.

Bangladesh, 4/10/2017

TINGGALKAN KOMENTAR

BACA JUGA:

Bagikan tulisan ini via:

Be Informed

berlangganan info DD

×
Assalamualaikum...

Ada yang bisa kami bantu? Jangan sungkan hubungi kami langsung dari WhatsApp Anda. Klik di sini untuk memulai chatting :)