Bolehkah Memberikan Zakat kepada Orangtua dan Kerabat?

Bolehkah Memberikan Zakat kepada Orangtua dan Kerabat?
Bolehkah Memberikan Zakat kepada Orangtua dan Kerabat?
Bagikan tulisan ini via:

Pertanyaan:

Assalammualaikum wr.wb. Saya mau tanya. Apakah boleh zakat penghasilan saya diberikan kepada orangtua saya? Karena mereka sudah tidak bekerja ditambah lagi orangtua saya masih mempunyai utang. Mohon penjelasannya, Ustaz. Terima kasih. Wassalammualaikum wr.wb. (Reni Rahmalia via Facebook)

Jawaban:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du

Mbak Reni yang budiman, Allah telah menjelaskan siapa saja yang boleh menerima zakat  di surat at-Taubah: 60, “Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para muallaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berutang, untuk jalan Allah dan untuk mereka yuang sedang dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah, dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (QS. at-Taubah: 60)

Dan orang yang telah membayar zakat, tidak boleh sedikit pun mengambil manfaat dari zakat yang dia bayarkan. Karena itulah, zakat tidak boleh diberikan kepada orang yang wajib dinafkahi oleh muzaki.

Dinyatakan dalam Fatwa Dar al-Ifta’, ulama menegaskan bahwa orang yang zakat tidak boleh menyerahkan zakatnya kepada orangtuanya dan seterusnya ke atas, atau kepada anaknya dan seterusnya ke bawah atau kepada istrinya. Karena pemanfaatan di tengah mereka masih nyambung. Sehingga perpindahan hak milik secara sempurna tidak terwujud. (Dar al-Ifta’ al-Mishriyah, No. 6695)

Secara umum, keluarga di sekitar kita, selain orangtua, anak, dan istri, bukan orang yang wajib kita nafkahi. Kita bisa sebutkan, seperti saudara, paman, bibi, sepupu, bukanlah daftar orang yang wajib kita nafkahi. Namun terkadang ada di antara mereka yang tinggal bersama kita, ikut kita, sehingga dia menjadi tanggungan kita. Di posisi ini, mereka menjadi orang yang wajib kita nafkahi.

Karena itu, jika keberadaan paman, bibi, atau saudara kandung, bukan termasuk orang yang wajib kita tanggung kehidupannya, maka mereka berhak mendapatkan zakat dari kita.

Masih dalam Fatwa Dar al-Ifta’, “Muzakki boleh menyerahkan zakatnya kepada keluarga selain ortu, anak, dan istri, seperti saudara laki atau perempuan, paman, bibi, yang mereka kurang mampu. Bahkan menyerahkan zakat ke mereka nilainya lebih utama. Karena di sana ada unsur membangun jalinan silaturahmi. (Dar al-Ifta’ al-Mishriyah, No. 6695)

Di antara dalil bolehnya memberikan zakat kepada kerabat yang tidak wajib kita nafkahi adalah hadis dari Salman bin Amir Radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Zakat kepada orang miskin nilainya zakat biasa. Zakat kepada kerabat, nilainya dua: zakat dan menyambung silaturahmi. (H.R. Ahmad 16668, Nasai 2594, Turmudzi 660, dan yang lainnya)

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi nilai lebih, ketika zakat itu disalurkan kepada kaum muslimin yang masih kerabat, karena ada nilai menyambung silaturahmi. Tentu saja, ini berlaku bagi kerabat yang tidak wajib dinafkahi muzakki (orangtua, anak, dan istri).

Demikian. Allahu a’lam.

KALKULATOR ZAKAT

TUNAIKAN ZAKAT

TUNAIKAN SEDEKAH

TUNAIKAN WAKAF

TINGGALKAN KOMENTAR

BACA JUGA:

Bagikan tulisan ini via:

Be Informed

belangganan info DD