Artikel Abdurrahman Usman: Bangkit Berdaya karena Zakat

Artikel Abdurrahman Usman: Bangkit Berdaya karena Zakat
Artikel Abdurrahman Usman: Bangkit Berdaya karena Zakat
Bagikan tulisan ini via:

Salah satu fondasi kekuatan umat Islam ada dalam rukunnya, yakni zakat. Dari masa ke masa, sejarah mencatat bahwa zakat terbukti menjadi instrumen penting dalam membangun peradaban Islam. Pascawafatnya Rasulullah SAW, estafet kepemimpinan dilanjutkan oleh Khalifah Abu Bakar Ash Shidiq. Pada masa beliaulah banyak muallaf yang kembali murtad dengan alasan Rasul SAW telah tiada, sehingga banyak dari mereka yang enggan membayarkan zakat termasuk pula para agnia (orang-orang kaya).

Menghadapi mereka, Abu Bakar mengabdil kebijakan yang sangat tegas. Dengan landasan dalil yang jelas seperti tertuang dalam Alquran Surat  at-Taubah: 103, “Ambillah zakat dari harta mereka untuk membersihkan harta mereka dan menghapus kesalahan mereka dan mendoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa  kamu itu menjadi ketentraman  jiwa mereka dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”

Kata khuz (ambillah) adalah fi’il amr atau kalimat perintah yang ditujukan kepada Nabi Muhammad dalam kapasitasnya sebagai pemimpin umat untuk memungut zakat. Perintah itu dibarengi dengan ancaman bagi mereka yang tidak mau membayarkannya. Hal ini dapat dibaca dalam  Alquran Surat Al-Fushilat: 6-7, “Celakalah bagi orang-orang musyrik yaitu orang-orang tidak membayarkan zakat dan mereka tidak percaya adanya hari kiamat.”

Sejarah pada masa Khalifah Umar bin Khattab yang paling sering disebut adalah ketika tanah Arab tengah dilanda paceklik, musim kemarau berkepanjangan membuat tanah-tanah di sana tandus. Suatu malam, Khalifah Umar mengajak seorang sahabat bernama Aslam untuk mengunjungi kampung terpencil di sekitar Madinah guna memastikan apakah rakyatnya butuh bantuan dan dalam keadaan sulit. Didapatilah pada sebuah kampung terpencil seorang ibu yang anaknya menangis karena lapar, setelah mengetahui atas kondisi Ibu yang merupakan janda miskin dan anaknya, Umar buru-buru kembali ke kota mengambil sekarung gandum dari Baitulmal yang dipikulnya sendiri ke rumah dhuafa tadi.

Pengelolaan zakat pada masa Umar bin Abdul Aziz lebih profesional, jujur, dan modern. Zakat adalah penyangga bagi agama, sekaligus sumber pendapatan bagi negara. Pada masa ini pulalah rakyat hidup aman dan sejahtera, bahkan Zaid bin Khattab menceritakan, menjelang wafatnya khalifah agung ini, ada orang yang kesusahan mencari mustahik zakat. Ia pun berkomentar, “Berkah Allah melalui tangan Umar bin Abdul Aziz, banyak penduduk yang hidup berkecukupan.” (Abdullah bin Abdul Hakam,  Sîrah `Umar bin `Abdil `Azîz, 110).

Pada catatan sejarah lain disebutkan, kemiskinan yang terjadi di Tunisia dan Al Jazair yang merupakan wilayah dalam naungan kekuasaan Islam pada saa itu dapat ditekan hingga titik terendah. Menurut Ali Sayis, sejarawan Hukum Islam, kemiskinan di dua wilayah tersebut dapat dientaskan hanya dalam jangka waktu tiga tahun.

Lalu apa rahasia keberhasilan konsep mustahik move to muzaki pada masa Khalifah Umar bin Abdul Aziz? Dalam berbagai catatan disimpulkan bahwa selain kepemimpinannya yang adil, beliau dalam mengentaskan kemiskinan yakni fokus pada bidang ekonomi sebagai corong utama kesejahteraan rakyatnya disertai dengan kebijakan-kebijakan yang menambah kekuatan ekonomi rakyatnya.

Bangkit Berdaya

Setelah menelusuri sejarah zakat dari masa ke masa, lalu bagimana situasi kondisi gerakan zakat pada era saat ini? Kita perlu mengawali dari kesadaran bahwa saat ini peradaban yang berkuasa adalah peradaban Barat atau bukan pada pengaruh Islam. Bahkan meskipun negara berpenduduk Islam, sistem yang dianutnya pun bukanlah sistem belandaskan Islam, sehingga hal terkait sektor lain-lainya termasuk zakat pun tidak menjadi prioritas negara.

Fenomena di Indonesia, gerakan zakat pun baru-baru bergeliat pada dekade terakhir ini, pada era tahun 90-an, lahir lembaga zakat dan sosial seperti Dompet Dhuafa bermula dari inisiasi masyarakat atas situasi dan kondisi kemiskinan yang diderita kaum dhuafa, dan tergerak untuk membantu sesama. Dengan pendekatan pada mulanya pada program-program charity, saat ini selain terus mengembanglan diri, belajar pada sejarah, hingga pengelolaan amanah titipan publik berbasis zakat dikelola lebih tersistem dan profesional.

Begitupun degan intervensi programnya, mengacu pada keberhasilan pengelolaan zakat pada masa Khalifah Umar Bin Abdul Aziz bahwa program pemberdayaan ekonomi menjadi cara paling efektif memutus rantai kemiskinan. Dalam perjalannya program ekonomi mesti dilakukan dengan pendampingan yang intensif hingga para mustahik itu mampu berdiri sendiri.

Pendekatan program ini sudah terbukti berhasil. Setidaknya di Banten, melalui program pemberdayaan masyarakat pesisir sekitar 30 orang mustahik melalui program ekonomi budidaya kerang hijau, tahun 2015 lalu mereka masih msutahik, kini tahun 2017 mereka sudah berzakat.

Ini menjadi bukti, bahwa zakat merupakan instrumen penting dalam upaya menjadikan berdaya dan bangkitnya kaum dhuafa dari keterpurukan kemiskinanya. Sehingga bagi para agnia tidak perlu ragu lagi menitipkan zakatnya kepada lembaga-lembaga zakat pada era ini, karena pengorbanan para aktivisnya setidaknya memberikan keteduhan serta oase harapan bagi mereka dhuafa yang terus tergilas oleh ketidakadilan yang sewaktu-waktu bisa saja amarahnya terbakar, jika sudah pada situasi seperti itu, tentu kita pun akan terkena imbasnya. Wallahua’alam. ▣


Penulis: Abdurrahman Usman, Pimpinan Cabang Dompet Dhuafa Banten

Editor: Setiawan Chogah


KALKULATOR ZAKAT

TUNAIKAN ZAKAT

TUNAIKAN SEDEKAH

TUNAIKAN WAKAF

TINGGALKAN KOMENTAR

BACA JUGA:

Bagikan tulisan ini via:

Be Informed

belangganan info DD