Apakah Utang Mengurangi Kewajiban Zakat?

Apakah Utang Mengurangi Kewajiban Zakat?
Apakah Utang Mengurangi Kewajiban Zakat?
Bagikan tulisan ini via:

Pertanyaan

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh

Saya ingin bertanya, apakah utang seseorang mengurangi kewajiban zakat? Misalnya, utang untuk membeli rumah atau utang untuk mengembangkan usaha. Terima kasih.

Jundi

Jawaban

Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh

Semoga Allah SWT senantiasa mencurahkan keberkahan-Nya kepada saudara dan keluarga.

Pada ulama berbeda pendapat tentang pengaruh utang terhadap kewajiban zakat. Perbedaan ini muncul karena tidak ada teks Alquran maupun As-Sunnah yang membahas secara eksplisit. Hanya saja, di tengah perbedaan tersebut, para ulama sepakat bahwa hutang tidak berpengaruh terhadap kewajiban zakat apabila kewajiban zakat telah ada sebelum adanya utang.

Pendapat pertama, utang tidak mengurangi kewajiban zakat. Pendapat ini adalah pendapat ulama syafi’iah, dzahiriah dan salah satu riwayat Ahmad. Ulama syafi’iah berpendapat bahwa kewajiban utang itu menyatu dengan harta. Sedangkan kewajiban membayar utang itu adalah tanggungan seseorang. Jadi, utang itu tidak terkait dengan harta yang wajib dizakati. Maka, utang tidak mengurangi kewajiban zakat. Apabila seseorang memiliki hutang dan menggunakan hartanya untuk membayar hutang sebelum tiba waktu zakat maka hal itu diperbolehkan.

Pendapat kedua, utang mengurangi kewajiban zakat harta tidak nampak (al-baathinah) berupa emas perak dan sejenisnya. Sedangkan untuk zakat harta yang nampak (adz-dzahirah)seperti : pertanian dan peternakan, utang tidak menjadi pengurang. Pendapat ini adalah pendapat ulama malikiah dan sebagian besar hanafiah. Hujjah mereka adalah atsar Ustman bin Affan yang memerintahkan membayarkan utang sebelum mengeluarkan zakat. Sedangkan untuk pertanian atau selain itu, hujjahnya adalah para sahabat yang menarik zakat tidak pernah menanyakan utang tatkala mengambil zakat sehingga utang tidak menjadi pengurang.

Pendapat ketiga, hutang menjadi pengurang kewajiban zakat baik harta yang nampak maupun tidak nampak bagi publik. Pendapat ini adalah pendapat sebagian dari hanabilah dan hanafiah untuk zakat ternak. Hujjah mereka adalah atsar Ustman bin Affan dan Atsar Abdullah bin Umar. Di samping itu, mereka berhujjah bahwa kewajiban zakat berlaku bagi orang yang memiliki harta berlebih. Ketika mereka menanggung utang sama artinya mereka tidak memiliki harta berlebih. Hanya saja, sebagian ulama hanabilah memberikan catatan yang sangat penting, apabila seseorang memiliki beban utang dan di saat yang sama memiliki property (di luar kebutuhan pokok) yang sebanding dengan nilai utang itu maka beban utang tersebut tidak menjadi pengurang kewajiban zakat.

Menurut hemat kami, apabila seseorang berutang untuk memenuhi kebutuhan pokoknya dan di saat yang sama ia tidak memiliki harta lain di luar kebutuhan pokok yang sebanding dengan nilai utangnya, maka beban utang itu menjadi pengurang kewajiban zakat. Apabila utang tersebut jangka panjang atau cicilan, maka utang yang jatuh tempo saja yang menjadi pengurang. Adapun utang untuk membeli property di luar kebutuhan pokok atau fasilitas di luar kebutuhan pokok, untuk memperbanyak kekayaan dan sejenisnya maka hutang tersebut tidak menjadi pengurang kewajiban zakat.

Wallahu a’lam.

KALKULATOR ZAKAT

TUNAIKAN ZAKAT

TUNAIKAN SEDEKAH

TUNAIKAN WAKAF

TINGGALKAN KOMENTAR

BACA JUGA:

Bagikan tulisan ini via:

Be Informed

belangganan info DD